BERHAKKAH MUI DAN MUHAMMADIYAH MENGHARAMKAN ROKOK ?


Rokok sudah diharamkan. Gaji karyawan rokok diumumkan bahwa uang gajinya haram? Apakah Tuhan pernah mengharamkan rokok? Adakah Tuhan menyampaikan itu lewat AL Qur’an? Adakah Muhammad pernah juga mengatakan begitu? Jika Tuhan tidak pernah mengharamkan rokok, berhakkah ulama sekarang mengharamkannya? Jika hanya sebagian ulama mengatakan rokok adalah haram dan ulama yang lain mengatakan makruh, maka menjadi haramkah rokok? Punya hak kah ulama merubah hukum? Berhakkah ulama merubah hukum rokok dari makruh jadi haram? Jika kita seorang Muslim, kita menjalankan apa yang ada dalam Al Qur’an dan Hadith tapi kita tidak menuruti ulama, maka akan berdosakah? Banyak pertanyaan muncul pasca keluarnya fatwa haram rokok.
Kontraversi terjadi. Banyak orang jadi bingung kenapa sebegitu berani sekelompok ulama mengharamkan rokok.
Jika kita bicara tentang bunyi Hadith, Muhammad pernah bersabda ketika melihat seorang lelaki sedang asyik berdo’a dalam mesjid: LIHAT ORANG ITU. BAGAIMANA MUNGKIN DO’ANYA DITERIMA, PADAHAL IA DIBESARKAN DARI YANG HARAM, IA MEMAKAN YANG HARAM, DAN IA MEMAKAI PAKAIAN YANG HARAM. Jadi Jika kita bahas tentang Ucapan Rosulullah ini, berarti do’a lelaki yang memakan yang haram itu tak akan diterima dan masih akan diterimakah sholatnya sebab dalam sholat juga ada do’a.
Masih akan diterimakah sholat dan ibadahnya? Berhakkah ulama mengharamkan yang makruh?
Teman saya pernah menulis tiga jilid buku berjudul 40 HARI DI TANAH SUIC. Dalam buku itu banyak bercerita tentang pengalaman dalam berhaji, tapi walaupun begitu banyak juga menceritakan tentang pengalaman dan penilaian tentang rokok di Saudi Arabia. Ketika sebelum berhaji, ketika sedang berhaji, penulis melihat banyak orang merokok dan melihat banyak penjual rokok di Mekkah, Padang Arafah dan juga di Mina. Kenapa ulama Indonesia berani mengharamkan rokok yang banyak dikonsumsi orang dan ketika berhaji. Bukankah orang yang berhaji dan pengisap rokok akan terjaring Hadith Muhammad tadi. Tak akan diterimakah do’a mereka? Padahal Allah dan Rasulnya tidak pernah mengharamkannya. Tahun 2009, MUI telah mengeluarkan fatwa bahwa rokok adalah haram. Tahun 2010 ini banyak berita di media massa mengatakan Muhammadiyah juga telah mengharamkan rokok. Bagaimana dengan do’a karyawan dan pengisap rokok. Masih diterima Tuhankah? Tanggung jawabkah para ulama akan fatwanya?
Saya rasa masih sangat penting untuk dipertimbangkan.

Iklan

2 responses to “BERHAKKAH MUI DAN MUHAMMADIYAH MENGHARAMKAN ROKOK ?

  1. menurut kami MUI dan Muhammadiyyah nggak harus AsBun, perlu dipertimbangkan masak-masak. Dari keluar omongan haram tentang rokok harus dipertimbangkan efek positif dan negatifnya. Dengan keluarnya fatwa haram berarti MUI dan Muhammadiyah telah mendosakan komunitas penghisap rokok sekaligus penanam tembakau, para pekerja pabrik rokok, sponsor rokok. Lebih parah lagi kebanyakan acara OLAH RAGA di TV di sponsori oleh rokok. MUI dan MD, suka nonton olahraga nggak? trusss, solusinya gmn donk !?

  2. dari pajak rokok yang masuk ke negara aja udah puluhan trilyun, sebagaian uangnya di pakai membayar gaji-gaji pegawai negeri, abri dan pegawai lainnya, berarti yang menerima pajaknya jadi haram, pantesan banyak koruptor, karena yang di urusnya bercampur dengan uang haram. bingung juga kalau jadi pegawai negeri ya, digaji dengan uang haram. kalau begitu banyak pegawai yang naik haji, duitnya duit haram. kenapa ga dari dulu???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s